Daya Tarik TV Lokal (dimuat di Koran Tempo edisi 5 Juli 2014)

Daya Tarik TV Lokal


Hampir semua televisi swasta nasional sedang melakukan keberpihakan terhadap Calon Presiden (Capres) dan Wakil Presiden (Wapres). Akibatnya, berita dan informasi yang dimunculkan kadang tak berimbang, berat sebelah dan terkesan saling menjatuhkan kubu lawan. Kabar terbaru, massa dari Partai Demokasi Indonesia Perjuangan (PDIP) mendatangi kantor berita TV One (2 Juni 2014) karena menganggap pemberitaan yang disajikan diskriminatif, menuduh tanpa bukti dan cenderung berlindung di balik undang-undang kebebasan pers. Semua program acara di TV nasional pendukung capres-cawapres dikemas semenarik mungkin untuk mengangkat popularitas calon yang dipuja. Otomatis, setiap saat pemberitaan hanya dimonopoli oleh satu informasi yang sama. Berharap masyarakat terpengaruh dan menaruh simpati. Namun justru sajian tayangan tersebut membuat penat, jenuh, monoton dan membosankan. Di saat seperti itu, kita masih memliki alternatif pilihan lain dengan mengubah chanel ke TV lokal.
Tahukah kita bahwa program-program yang disajikan oleh TV lokal kini cenderung menghibur dan mencerdaskan. Kebanyakan berita disajikan secara proporsional. Kitapun masih dapat menikmati sajian informasi yang sifatnya lokal, seputar daerah di mana televisi tersebut berada. Keberadaan TV lokal menjadi oase yang menyegarkan di balik hiruk-pikuk informasi pemilihan calon presiden yang tak berimbang. Masyarakatpun mulai menaruh simpati terhadap keberadaan TV lokal. Hal ini terlihat dari jumlah TV lokal yang semakin bertambah setiap saat. Rinowati lewat tulisannya Eksistensi Televisi Lokal menjelaskan, tahun 2004 jumlah TV lokal di Indonesia berada pada kisaran 50 stasiun. Saat ini TV lokal telah menembus lebih dari 200 stasiun. Jumlah ini masih terus berkembang seiring pembukaan loket perizinan di pelbagai daerah.
Beberapa TV lokal yang memiliki keunikan progam sajian di antarnya seperti JTV Surabaya yang menggarap siaran berita berbahasa Jawatimuran dan Madura. Hal itu dimaksudkan untuk meraih simpati publik yang memiliki latar belakang budaya bahasa sama. Bali TV dan Yogya TV berisi program-program kebudayaan (kesenian) lokal. Faforit TV (Padang) menggarap adat istiadat sebagai sajian khasnya. Demikian pula dengan TV Manado dan TOP TV (Papua) mengambil siaran utama dengan tajuk kelucuan-kelucuan (humor) khas daerah. Sementara TA TV (Solo) dengan rutin masih melangsungkan siaran kesenian-kesenian tradisi seperti klenengan gamelan, wayang kulit dan ketoprak. Semua keunikan TV lokal tersebut tentu saja tak dapat dijumpai pada TV nasional. Iklan yang masuk juga bersifat lokal seperti iklan penjual bakso dan jamu, air isi ulang, kontrakan dan kos-kosan mahasiswa. Bahkan di beberapa TV lokal seperti Grabak TV di desa Grabak, Magelang Jawa Tengah, pembiayaan dilakukan secara swadaya oleh masyarakat setempat.
TV lokal kian dinikmati karena mampu memberi suguhan yang berbeda dari TV nasional. Saat ini, hampir semua acara TV nasional seragam, dari berita politik, film, hiburan hingga gosip artis. Miskin kreativitas, semata hanya memburu untung rugi pasar berupa iklan dan rating. Tak hendak berpihak pada publik dengan menyajikan tayangan yang sehat dan mendidik. Pada konteks inilah posisi TV lokal menjadi penting kembali untuk dilihat dan sekaligus juga direnungkan. Sarah Anabarja (2011), mengungkapkan bahwa televisi merupakan media yang paling potensial untuk memengaruhi dan membentuk prilaku seseorang. TV mampu merebut 94% saluran masuknya pesan atau informasi ke dalam jiwa manusia lewat mata dan telinga. TV mampu membuat orang umumnya mengingat 50% dari apa yang mereka lihat dan dengar walaupun hanya sekali ditayangkan. Wajar kemudian jika banyak anarkisme, kekerasan, pelecehan seksual terjadi karena efek dari tontonan yang selama ini mereka lihat dan dengar di televisi. Karena itu, sudah saatnya kita menonton tayangan yang bermutu, dengan memindah chanel di TV Lokal.
Aris Setiawan

Penulis

Tidak ada komentar:

Pengikut