Memahami Soundcape (dimuat di Kompas edisi 18 Januari 2010)

Memahami Soundcape


 
Isu ekologis beberapa waktu ini mengemuka. Dimulai dari tata kota, hingga isu yang paling tren berkaitan dengan perubahan iklim, termasuk pemanasan global dengan digelarnya KTT ke-15 Perubahan Iklim di Kopenhagen, Denmark.
Namun, satu hal yang seolah terlewat adalah persoalan soundscape. Soundscape merupakan pemandangan suara-suara yang ada di sekitar lingkungan kita. Istilah soundscape sendiri dimunculkan pertama kali oleh Murray Schafer dalam bukunya Ear Cleaning (1967) yang berasal dari dua impresi kata, yaitu sounds (bunyi) dan landscape (pemandangan).
Shin Nakagawa, seorang etnomusikolog dari Jepang lewat bukunya berjudul Musik dan Kosmos (2000), memandang perlunya menata kembali soundscape bagi kehidupan kita. Perkembangan spektrum teknologi dan ilmu pengetahuan ternyata juga berimplikasi pada perkembangan soundscape. Banyak hasil teknologi yang memiliki efek lain sebagai penghasil suara kini bermunculan. Beberapa di antaranya yaitu mesin pabrik, mobil, peralatan rumah tangga, sepeda motor, handphone dan lain sebagainya. Tanpa sadar bahwa soundscape yang ada terkadang menjelma menjadi polusi suara (distorted).

Faktor Budaya
Anderson Sutton (1996) mengindikasikan bahwa distorsi suara di Indonesia memiliki keterkaitan yang erat dengan faktor kebudayaan. Sutton menekankan bahwa masyarakat Indonesia menyukai sesuatu yang ramai. Hal ini dapat dicermati dari berbagai prosesi acara yang ada, baik dalam konteks seremonial maupun seni pertunjukan tradisinya.
Lihat saja arak-arakan sepeda motor waktu kampanye partai. Lebih khusus lagi seremonial pernikahan, hajatan yang menggunakan public address (PA) dengan suara yang distorted. Atau bahkan pertunjukan tradisi Sekaten di Solo, Jawa Tengah, saronen (sape sono) di Madura, ngarot di Jawa Barat, gordang sembilan di Sumatra yang kesemuanya dengan sengaja menghasilkan soundscape yang cukup gaduh. Kegaduhan yang ada ditujukan untuk menunjukkan eksistensi dan tanda kebesaran mereka. Semakin ramai dan kacau soundscape yang ditimbulkan, menunjukkan bahwa acara yang bersangkutan semakin berskala besar dan megah.
Selain itu, masyarakat Indonesia masih cenderung salah dalam memberlakukan teknologi yang memiliki implikasi penghasil suara. Mereka masih menempatkan fungsi utamanya tanpa menghiraukan efek lain yang ditimbulkan. Semisal mesin pabrik. Keberadaannya akan tetap dipertahankan sejauh masih dapat memproduksi barang dengan lancar, walaupun efek suara yang dihasilkan melebihi kapasitas normal. Atau contoh yang lebih umum adalah kendaraan bermotor seperti bus kota, bajaj, sepeda motor dan lain sebagainya. Tanpa berpikir tentang efek suara yang dihasilkan (sama seperti efek asap pada knalpot), kehadirannya akan tetap dipertahankan sejauh masih dapat dipergunakan sebagai alat transportasi keseharian.

Memahami Soundscape
Mengerti soundscape bagi Shin Nakagawa berarti memahami suara dengan bijak. Pertanyaan yang paling sederhana kini, apakah kita memahami suara lingkungan kita (soundscape) dengan benar?
Selama ini kita memberlakukan telinga kita dengan cukup arif ketika mendengarkan sebuah konser musik di gedung pertunjukan atau konser gamelan di pendapa. Detail-detail musikal dapat kita cerna dan terima dengan jelas sebagai sebuah sketsa bunyi yang menarik dan ideal. Selanjutnya tidak jarang kita akan memejamkan mata, mengangguk-anggukkan kepala atau bahkan tertawa dan menangis haru karena dapat begitu rinci dan jeli dalam menghayati asupan bunyi yang ada. Namun bagaimana dengan keadaan bunyi lingkungan kita? Efek suara pabrik-pabrik besar, bus kota, angkot, bajai atau klakson di kemacetan lalu lintas yang cenderung menimbulkan distorsi soundscape. Apakah kita juga memberlakukan hal yang sama pada telinga kita?
Shin Nakagawa menekankan bahwa kemampuan telinga kita cenderung menjadi tumpul ketika keluar dari panggung pertunjukan tersebut. Suara-suara lingkungan hanya menjadi simbol sepintas lalu. Noise atau kebisingan sudah menjadi makanan sehari-hari, terutama di kota-kota besar seperti Jakarta. Padahal tanpa disadari, soundscape yang demikian membawa perkembangan telinga dan otak cenderung menurun.
Ahmad Rofii dan Andriana Yunita dari Fakultas Kedokteran UI dan Universitas Sumatra Utara, menekankan bahwa seringnya mendengarkan suara soundscape yang bising (noise) atau distorted akan dapat mengakibatkan ketulian. Hal semacam ini dalam ilmu kedokteran lazim disebut TAB (Tuli Akibat keBisingan) atau NIHL (Noise Induced Hearing Loss). Sementara Ikron dari Departemen Kesehatan Lingkungan UI menyatakan, bahwa distorsi soundscape banyak disebabkan oleh padatnya lalu lintas jalan serta efek mesin pabrik dan rumah tangga. Efek dari soundscape tersebut memiliki dampak yang besar bagi psikologis (otak) anak. Lebih lanjut, hasil penelitian Ikron (2005) menyatakan bahwa anak-anak sekolah dasar yang menerima kebisingan soundscape secara reguler berisiko mengalami gangguan psikologis, dibanding dengan anak-anak yang belajar di lingkungan tenang.
Djohan dalam bukunya Psikologi Musik (2005) menekankan bahwa suara atau bunyi membawa dua efek tersendiri terhadap psikologi seseorang. Tidak hanya satu sisinya yang bermanfaat layaknya musik klasik bagi perkembangan janin, atau musik gamelan sebagai terapi kejiwaan. Lebih dari itu, bunyi-bunyian yang cenderung tidak berstruktur, bising terlebih distorted dan berlangsung terus menerus, akan cepat menstimuli otak untuk stres. Oleh karena itu, wajar jika baru-baru ini The Jakarta Post (18 Oktober 2009) mewartakan bahwa hidup di Jakarta dan kota besar lainnya dapat membuat orang menjadi “gila”. Saya kira pemicunya tidak hanya dalam skala domain yang lebih besar yakni persoalan politik dan ekonomi (materi), namun juga lingkungan, dan soundscape yang dalam konteks ini menjadi salah satu faktor utamanya.
Oleh karena itu, kembali lagi bahwa sudah saatnya kita mengerti persoalan soundscape dengan benar, serta menempatkannya dalam bingkai koridor etika dan kesehatan. Dibutuhkan implementasi tegas terhadap penegakan peraturan yang sifatnya menata dan mengatur kembali soundscape, terkait suara-suara apa saja yang layak didengar dan yang tidak. Hal ini menjadi penting guna meraih satu kehidupan yang lebih nyaman dan lebih utama lagi sehat.

Aris Setiawan
Etnomusikolog, Staf Pengajar di ISI Surakarta

Konser Gamelan Langka di Ibukota (dimuat di Majalah Gong edisi Desember 2009)

 Konser Gamelan Langka di Ibukota


Agak berbeda dengan Festival Kesenian Indonesia (FKI) sebelumnya, kali ini lebih greget. Dengan mengangkat identitas sebagai tema utama, FKI VI di Jakarta lebih dapat membasahi dirinya dengan bingkai tradisi yang pekat. Hal yang cukup menonjol dapat dilihat dari ragam acara yang disuguhkan. Salah satu acara yang cukup menarik adalah konser “gamelan langka”, di Graha Bakti Budaya Taman Ismail Marzuki (6 Oktober 2009 pukul 19.30), oleh tiga perguruan tinggi seni, ISI Surakarta, STSI Bandung dan ISI Denpasar. Malam itu mereka membawa dan seolah menempatkan kembali dirinya sebagai satu pilar penyokong kebudayaan dengan mengangkat idiom tradisi sebagai sebuah identitasnya.

Eksotisme Sekaten
Sajian pembuka malam itu diisi dengan gamelan sekaten dari ISI Surakarta. Gamelan sekaten yang tergolong sebagai salah satu gamelan tertua diantara perangkat gamelan lainnya di Surakarta termasuk dalam bingkai gamelan pakurmatan. Bermula dari asal katanya ‘kurmat’, menunjukkan bahwa sebenarnya gamelan jenis ini dipergunakan sebagai sarana untuk menghormat atau menyembah pada sesuatu. Di daerah asalnya, Solo, gamelan sekaten dimiliki oleh Keraton Kasunan Surakarta yang hanya dibunyikan setahun sekali untuk memperingati kelahiran Nabi Muhammad tepatnya pada bulan maulud, grebeg maulud.
Sekaten yang selama ini seolah terpenjara pada ruangnya yang ‘pertisius’, mencoba dihadirkan kembali dengan format yang berbeda oleh Supardi dan AL Suwardi, komponis dari ISI Surakarta. Dengan memakai kostum layaknya para pengrawit (pemusik) keraton, abdidalem, dan kalung samir yang adi luhung itu, pemusik dari ISI Surakarta seolah membawa kita menapaki jejak-jejak kejayaan keraton di masa silam.
Komposisi musik diawali oleh instrumen bonang, kemudian menghantarkan pada ruang orkestrasi musikal yang begitu kompleks. Empat pesinden yang kehadirannya tidak lazim dalam komposisi musik sekaten, melagukan alunan melodi vokal Jawa yang sesekali harus terbata-bata menyesuaikan dinamika tangga nada gamelan. Memang semua masih dalam tahap eksperimentasi. Segala kemungkinan dapat terjadi.
Sekaten begitu anggun, ukurannya lima kali lipat dari gamelan biasa (ageng), suaranya begitu menggema dan mampu menerobos sekat-sekat perhatian audiens. Sayangnya hal tersebut tidak diimbangi dengan ukuran-ukuran musikal yang ketat. AL Suwardi dan Supardi nampak masih terikat cukup kencang dengan tali ketradisiannya. Barangkali karena latar belakang kedua komposer yang telah melakukan pengembaraan pada sistem pendidikan tradisi yang pekat. Imbasnya, ketika mencoba kebaharuan sekaten, banyak metrum yang saling tumpang tindih dalam komposisinya. Hal yang cukup terasa ketika pertemuan antara lima rebana dengan gamelan carabalen dengan tempo yang saling tak mau mengalah, alias kehilangan ketukan. Beruntung, komposisi ini diakhiri dengan babak yang menggoda, dinamika yang mulai menghanggat cepat, jalinan permainan yang atraktif namun rapi, cocok dengan nuansa Ibokota yang ramai.
Mengulang Tradisi
Bingkai-bingkai tradisi dalam ruang kebudayaan terutama seni yang selama ini kita anggap -atau bahkan telah- mati, ternyata hanya bersembunyi, dan menunggu saat yang tepat untuk berani menampakkan wujudnya kembali. Mungkin, malam itu adalah saat yang pas dimana gong renteng harus muncul. Gong renteng selama ini terpendam dalam bingkai kesakralannya, tanpa mampu menjadi bentuknya yang lebih populis, yang konon katanya menghendaki takdirnya untuk mati, ternyata membahana dalam panggung pertunjukan TIM yang megah. Begitu apa adanya, tanpa resistensi, tanpa inovasi, dan bergeliat pasti diantara derasnya gesekan nuansa metropolis ibukota.
STSI Bandung yang selama ini terkenal dalam kelincahan jaipongnya, ternyata mampu membawa komposisi musik tradisi sakralnya dengan begitu fasih. Malam itu, tanpa gubahan dan aransemen ulang, mereka menghidangkan komposisi gamelan renteng pada warga ibokota. Dengan jalinan instrumen konkoang, cempres, peneteg dan gong yang hampir tanpa cacat, otomatis malam itu nuansa sunda telah mengguyur TIM.
Tapi ada satu hal yang seolah terlewat, mereka menyuguhkan oncom pada penggemar pizza. Tanpa dimasak dengan lebih matang dengan bumbu kreativitas yang tinggi, komposisi gamelan renteng malam itu hanya menjadi makanan lama yang seolah mulai “membasi”. Tanpa disadari bahwa seni memiliki sifatnya yang nomadik, dapat dengan lentur bergerak menuruti laju peradaban. Kenapa harus takut untuk memberi bumbu pada tradisi jika racikan bumbu yang lama terasa kurang? Niscaya, gamelan renteng sudah selayaknya tidak hanya menjadi sekedar mitos belaka. Harus dibutuhkan keberanian untuk memperpanjang denyut nadinya, dengan sentuhan kreativitas dan rasa baru yang lebih menggairahkan.

Evolusi Gamelan
Dalam terminologi Darwin, perkembangan sebuah peradaban itu dimulai pada satu tingkatan yang paling sederhana dan hingga mencapai derajadnya yang semakin kompleks. Kesenian termasuk gamelanpun demikian adanya. Para musisi bali yang pada malam itu menutup pementasan, meyakini bahwa varian gamelan di Bali sebenarnya bermuara pada satu spektrum yang sama. Dengan mengambil tema evolusi gamelan, ISI Denpasar mengetengahkan empat varian gamelannya. Gamelan slonding, gambuh, semar pagulingan, gong gede, kesemuanya saling bertautan, evolutif.
Penjelajahan ruang kreatif malam itu dimulai dengan gamelan yang paling tua, slonding. Disusul kemudian konser suling gambuh, semar pagulingan dan terakhir yang paling muda, gong gede. Layaknya musik Bali yang selama ini sering kita lihat, malam itu begitu atraktif, interloking yang terjadi antar pemain cukup membuat audiens terkesima. Dengan melakukan eksperimentasi yang ketat, para pemusik bali mencoba mengais kemungkinan-kemungkinan yang dapat dilakukan dengan memanfaatkan medium tradisi sebagai jembatannya.
Terbukti, tak hanya permainan yang atraktif saja. ISI Denpasar malam itu dapat mendudukkan empat gamelan dalam satu konstelasi kesepahaman rasa yang sama, tidak ada yang subdominan maupun yang dominan. Terlebih empat reportoar gamelan yang ada terkadang dimainkan bersamaan dalam satu komposisi musik (gending) yang indah. Made Kartawan, salah satu komposer mengatakan bahwa di Bali sendiri sangat jarang dapat melihat dua terlebih empat gamelan yang berbeda ditampilkan pada satu tempat yang sama dalam bingkai instrumentasi musikal, jadi beruntunglah Jakarta pada malam itu.
Ada kesan tersendiri melihat konser gamelan dari ISI Denpasar. Tampak bagaimana mereka kurang arif dalam memperlakukan keempat “gamelan langkanya”, semua dibunyikan di luar batas mainstream. Dengan mengangkat satu spektrum dinamika yang cepat namun menghentak, tanpa sadar mereka telah menjiplak dan menjadikan keempat gamelan tersebut menjadi ‘gong kebyar’, salah satu gamelan (Bali) yang begitu populer karena kelincahan permaianannya yang atraktif. Sehingga malam itu yang tampak bukan lagi konser empat gamelan (slonding, gambuh, semar pagulingan, gong gede) yang begitu deras nuansa sakral tradisinya, namun sebatas prototipe gamelan yang lebih populis.

Namun demikian Hidangan yang mencoba disuguhkan ISI Surakarta, STSI Bandung dan juga ISI Denpasar menjadi akhir yang manis untuk konser ‘gamelan langka’ yang juga langka terjadi di Ibukota.
Dengan menghadirkan sub wilayah kultur yang masih pekat bingkai tradisinya, bisa jadi, FKI kali ini seolah sengaja dihadirkan sebagai satu stimulan awal, merangsang Jakarta untuk kembali memperkuat habitus akar budayanya.

Aris Setiawan
Etnomusikolog, tinggal di Solo

Geliat Menuju Identitas (dimuat di Kompas Minggu edisi 11 Oktober 2009)

Geliat Menuju Identitas 


 
”Suatu upaya bersama untuk menjelajah dan mencari gagasan-gagasan baru melalui seni dalam konteks kultural.” Demikian maksud dan tujuan yang hendak dicapai dari diadakannya FKI (Festival Kesenian Indonesia) VI di IKJ-TIM Jakarta tanggal 5-24 Oktober 2009. ”Exploring Root of Identity”, tema yang turut meramaikan isu dan polemik kebudayaan yang selama ini mencuat ke permukaan. Pengambilan tema tersebut sedikit banyak turut dipicu terkait keberadaan seni yang semakin tersisih dari struktur penekanan global yang lebih dominan, politik dan ekonomi. Atau mungkin dipicu konflik saling klaim terhadap kesenian tradisi Indonesia yang baru-baru ini terjadi?

Terlepas dari dua hal tersebut, lebih penting lagi festival kali ini akan menjadi satu tolok ukur eksistensi perguruan tinggi seni se-Indonesia. Sebagaimana yang telah diwartakan Kompas (27 September 2009), FKI selama ini dapat terselenggara berkat kerja sama perguruan tinggi seni se-Indonesia yang tergabung dalam Badan Kerja Sama Perguruan Tinggi Seni Indonesia (BKS-PTSI). Adapun anggota BKS-PTSI terdiri dari ISI Yogyakarta, ISI Surakarta, ISI Denpasar, Institut Kesenian Jakarta, STSI Padang Panjang, STSI Bandung, dan STKW Surabaya.

Lewat acara FKI ini, beberapa wacana telah mengemuka. Seperti yang diungkapkan FX Widaryanto sekretaris BKS-PTSI, apakah keberadaan perguruan tinggi seni mampu dalam membangun dan mempertahankan pilar-pilar kebudayaan sebagai benteng terakhir wajah keindonesiaan kita? Atau justru sebaliknya, mereka telah kalah dan turut larut dalam euforia budaya utopia? Semuanya akan dapat kita lihat dalam festival kali ini.

Sebuah perenungan

Efek-efek dari peradaban abad ke-21 telah menjadikan manusia menapaki lajur kehidupan yang sangat erat bersentuhan dengan teknologi. Di satu pihak hal tersebut memacu loncatan-loncatan drastis terhadap perkembangan kebudayaan ke arah yang lebih cepat, tetapi di pihak yang lain justru memundurkan sang pemilik kebudayaan ke titik awalnya (Suka Harjana 2003). Terlebih jika efeknya melanda sebuah negara yang berkembang—kata lain dari terbelakang?—layaknya Indonesia. Teknologi telah membenturkan kebudayaan satu dengan kebudayaan lainnya dengan begitu dekat. Benturan-benturan (Barat-Timur) yang terjadi tentu saja harus mengorbankan salah satu kebudayaan sebagai satu ruang dalam posisi terkalahkan.

Ironisnya, kita selama ini menjadi subdominan, kalau bukannya kalah dari benturan kebudayaan tersebut. Kredo-kredo lama harus beralih dan mengabdi pada satu ruang yang menang, mengubah banyak tatanan yang katanya lebih modern. Pada konteks ini, kesenian kita telah mengalami gejala yang demikian juga. Geliat perjalanannya telah menjadikan kebudayaan (kesenian) Indonesia menapaki lajurnya yang vandalis serta keluar dari tatanan dan sekat-sekat identitasnya.

Dengan demikian wajar jika FKI VI kali ini menggulirkan satu wacana ”eksplorasi akar-akar identitas”. Terlebih FKI yang terdiri dari kumpulan perguruan tinggi seni se-Indonesia ini bergerak di garda depan ruang pendidikan seni. Oleh karena itu, keberadaannya sebagai sebuah festival harus mampu menunjukkan formatnya yang berbeda dari festival pada umumnya, alias lebih mendidik. Kreativitas tentu menjadi tuntutan utama. Namun, tidak hanya sebatas berkarya dan menggali kebaruan semata. Lebih dari itu, apakah karya-karya yang akan ditampilkan mampu memberi warna baru dan menguatkan identitas keindonesiaan dalam percaturan seni dan kebudayaan dewasa ini, menjadi penting untuk dipertanyakan kembali.

Seminar

Untuk mendukung gagasan tersebut FKI VI IKJ-Jakarta menjabarkannya dalam 13 acara pokok. Konser gamelan, orkes simfoni, karnaval, kolaborasi tari dan musik, pameran-pameran seni, seminar, workshop, pemutaran film, adalah acara-acara unggulan di samping banyak lagi acara lainnya. Barangkali yang paling menarik untuk diikuti jejak rekamnya adalah seminar yang diadakan tanggal 6-7 Oktober 2009. Apabila kita kesulitan dalam mencerna karya-karya yang ditampilkan, dengan mengikuti seminar ini, semua akan menjadi terang dan jelas.

Seminar yang juga mengambil tema “Exploring Root of Identity” adalah sebuah usaha yang mencoba mengungkapkan peran perguruan tinggi seni dalam upaya pelestarian, pengembangan dan penguatan kehidupan budaya melalui karya-karyanya. Selain itu, seminar mencoba menampilkan pemikiran-pemikiran dan perspektif baru dalam membaca perkembangan seni dewasa ini.

Tidak hanya para tokoh intelektual kebudayaan yang dihadirkan. Pada FKI VI, peran dan keikutsertaan mahasiswa kini juga mulai sangat diperhitungkan. Setiap perguruan tinggi seni mengirimkan delegasi lima mahasiswanya yang terlibat forum diskusi dengan mahasiswa perguruan tinggi seni lainnya. Lima mahasiswa berprestasi dari setiap perguruan tinggi tersebut juga menyeminarkan hasil dari pengembaraan intelektual yang telah mereka geluti selama menempuh studi di institusi seni. Kemudian, hasil akhirnya akan dirumuskan sebagai satu wacana pemikiran baru kaum intelektual muda masa kini.

Gamelan

Beberapa perguruan tinggi seni dalam FKI VI kali ini mencoba membasahi dirinya, dengan memusatkan perhatian hanya pada wilayah seni yang keberadaannya di luar gemerlapnya dunia populer. Mengais nilai tradisi. Itulah yang ditampilkan ISI Surakarta, ISI Denpasar, dan STSI Bandung yang semuanya sepakat membawa gamelan ”langka” mereka (Sekaten, Gong Kebyar, Gong Renteng) ke panggung pertunjukan yang megah. Tak tanggung-tanggung, dengan garapan baru, ketiga institusi tersebut juga mencoba ”mengawinkan” antargamelan yang mereka miliki sehingga muncul karya (bahkan varian gamelan) baru yang unik.

Ketiga perguruan tinggi seni tersebut seolah sepaham dalam menempatkan gamelan pada spektrum dan makna pokoknya yang intangible, tak kasat mata. Seni (gamelan) entah apa pun itu bentuknya tidak hanya hadir dalam takaran kebendaannya yang kasat mata, tangible. Lebih dari itu, konstruk makna filsafati yang begitu pekat di balik wujud kebendaannya adalah hal yang lebih penting untuk dimengerti kembali. Dengan demikian, menurut AL Suwardi komponis FKI dari Surakarta, seharusnya kita tidak perlu khawatir ketika seni kita dipakai dan diakui pihak lain. Karena mereka hanya mampu memiliki kebendaannya tanpa mampu menembus sekat-sekat makna yang terkandung di dalamnya.

Semoga FKI tidak hanya menjadi semacam ritual. Nama ”Indonesia” yang disandang dalam festival tersebut harusnya mampu menggambarkan dan memberi warna serta kekuatan ke- indonesiaan, yang selama ini dirasa telah menghilang akibat hiruk-pikuk gempuran budaya global-modern.

Aris Setiawan Etnomusikolog, Pengajar dan Kontingen FKI dari ISI Surakarta

Pengikut